Minggu, 23 Oktober 2011

Kriya Batik


Pengertian Batik
            Batik adalah gambar atau lukisan yang dibuat pada kain dengan bahan lilin dan pewarna (naphtol), menggunakan alat canting dan kuas serta teknik tutup celup. Batik dapat berupa gambar pola ragam hias atau lukisan yang ekspresif. Menggambar atau melukis dengan bahan lilin yang dipanaskan dan menggunakan alat canting atau kuas disebut membatik.
            Dalam perkembangan selanjutnya, untuk mempercepat proses membatik digunakan cap. Itulah sebabnya, karya batik dengan canting dan cap dikenal dengan istilah batik tulis dan batik cap.
            Batik memiliki fungsi ganda, yaitu fungsi praktis dan fungsi estetis. Secara praktis, kain batik dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan akan pakaian, penutup tempat tidur, taplak meja, kurung bantal, dan sebagainya. Secara estetis, batik lukis bisa dibingkai dan dijadikan perhiasan ruangan.

Desain Ragam Hias untuk Pola Batik
            Ragam hias dalam seni rupa bisa berfungsi mengisi kekosongan suatu bidang dan juga berfungsi simbolis. Sebagai contoh, ragam hias burung dalam nekara perunggu mempunyai simbol arwah nenek moyang. Ragam hias berkaitan dengan pola hias dan motif. Pola hias merupakan unsure dasar yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam merancang suatu hiasan. Sedangkan, motif hias merupakan pokok pikiran dan bentuk dasar dalam perwujudan ragam hias, yang meliputi segala bentuk alam ciptaan Tuhan seperti manusia, binatang, tumbuhan, gunung, batuan, air, awan, dan lainnya serta hasil kreasi manusia. Jadi, ragam hias adalah susunan pola hias yang menggunakan motif hias dengan kaidah-kaidah tertentu pada suatu bidang atau ruang sehingga menghasilkan bentuk yang indah.
            Ragam hias dapat dibedakan menjadi tiga motif, yaitu motif geometris, motif non-geometris, dan motif benda mati. Motif geometris antara lain berupa : pilin ganda, tumpal, meander, swastika, dan kawung. Motif non-geometris berupa : manusia, binatang, dan tumbuhan. Motif benda mati berupa : air, api, awan, batu, gunung, matahari.

Media Berkarya Batik

Bahan
            Bahan untuk berkarya batik terdiri dari kain mori atau sutera, lilin, dan zat pewarna. Mori adalah bahan baku batik yang terbuat dari katun. Kualitas kain mori bermacam-macam jenisnya dan sangat menentukan baik dan buruknya kain batik yang dihasilkan. Selain kain mori, kain sutera dapat juga digunakan sebagai bahan baku batik, tapi harganya sangat mahal.
            Kebutuhan akan kain sangat ditentukan oleh fungsinya. Misalnya, membuat saputangan cukup membutuhkan kain ukuran 40 x 40 cm, taplak meja membutuhkan kain ukuran 100 x 100 cm, kain jarik membutuhkan kain ukuran sekitar 100 x 250 cm, penutup tempat tidur membutuhkan kain sesuai dengan ukuran tempat tidurnya. Untuk membuat batik kemeja berpola membutuhkan kain sekitar 100 x 200 cm. Untuk batik lukis, ukuran kain disesuaikan dengan ukuran yang dikehendaki.
            Lilin adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Lilin yang digunakan untik membatik bermacam-macam kualitasnya. Kualitas lilin ini berpengaruh terhadap daya serap warna kain batik. Berikut ini merupakan jenis-jenis lilin :
- Lilin putih, berasal dari minyak latung buatan pabrik.
- Lilin kuning, berasal dari minyak latung buatan pabrik.
- Lilin hitam, berasal dari minyak latung buatan pabrik.
- Lilin tawon, berasal dari sarang lebah.
- Lilin klanceng, berasal dari sarang lebah klanceng.
- Gandarukem dan keplak sebagai bahan campuran lilin.
            Zat pewarna untuk membuat batik dapat diperoleh dari alam dan buatan pabrik. Untuk batik klasik, zat pewarna diperoleh dari alam, misalnya warna hijau dibuat dari daun jarak kepyar, warna merah dibuat dari daun jati muda, dan warna kuning dibuat dari rimpang kunyit yang dicampur dengan kapur sirih. Batik tradisional dan modern sudah menggunakan zat pewarna buatan pabrik, yaitu naphtol dan garam. Wujudnya berupa serbuk, dan dapat dilarutkan dengan air dingin. Untuk aturan penggunaan naphtoldan garam dapat dibeli di toko kimia atau sablon.
            Untuk membuat ramuan pewarna batik siapkan naphtol dan garam pada dua wadah dengan komposisi sebagai berikut :
- Naphtol 2 gr + soda api 1 gr + TRO 1 gr + 1 liter air panas.
- Garam 6 gr + 1 liter air dingin.
            Ada beberapa jenis naphtol yang namanya berupa singkatan. Yaitu : AS-G, AS, AS-D, AS-OL, AS-BO, AS-BS, AS-BG, AS-GR, AS-BR, AS-LB. Garam pewarna juga ada bermacam-macam. Yakni : yellow GC, orange GC, scarlet GG, red GG, scarlet R, red 3GL, red B, bourdeaux GP, violet B, blue BB, blue B, black B.
            Paduan naphtol dan garam yang berbeda akan menciptakan hasil akhir warna yang berbeda pula. AS-G menghasilkan warna muda. Seterusnya warna semakin tua sampai AS-LB yang menghasilkan warna paling tua (mulai dari kuning-jingga-merah-cokelat).

Alat
            Peralatan untuk membatik sejak dahulu tidak banyak mengalami perubahan. Peralatan membatik dan cara mengerjakannya tidak dapat dimodernisasi karena akan menghilangkan arti batik. Hal yang perlu dimodernisasi adalah kualitas produk dan kualitas peralatan. Adapun peralatan membatik standar adalah canting, kuas, wajan, kompor, gawangan, sarung tangan, dandang besar, dan setrika.
            Canting adalah alat pokok membatik yang menentukan apakah hasil pekerjaan disebut batik atau bukan batik. Canting berfungsi untuk menulis atau melukiskan cairan lilin pada kain, membuat motif-motif batik yang diinginkan. Alat ini terbuat dari bahan tembaga yang dipadukan dengan bambu sebagai tangkainya. Canting terdiri dari tangkai yang terbuat dari bambu, badan canting yang berfungsi untuk mengambil dan menampung cairan lilin dari wajan, dan carat, pipa kecil melengkung untuk jalan keluar cairan lilin.
            Menurut fungsinya, canting dapat dibedakan menjadi dua, yaitu canting reng-rengan (batikan pertama kali sesuai dengan polanya) dan canting isen (mengisi bidang batik). Menurut besar kecilnya, canting dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu : canting kecil, canting sedang, dan canting besar. Menurut banyaknya carat, canting dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu canting cecekan, canting loron (bercarat dua), dan canting telom (bercarat tiga).
            Kuas untuk membatik hendaknya tahan panas. Fungsi kuas untuk menutup bidang yang luas, sehingga cepat selesai.
            Wajan adalah peralatan yang terbuat dari logam baja yang berguna untuk mencairkan lilin untuk membatik. Ukuran wajan untuk membatik biasanya kecil. Wajan yang baik hendaknya memiliki tangkai, sehingga mudah untuk diangkat dan diturunkan dari kompor.
            Kompor untuk membatik berukuran kecil. Gunanya untuk memanaskan wajan, sehingga lilinnya mencair.
            Gawangan adalah peralatan yang berguna untuk membentangkan kain yang dibatik. Gawangan dapat dibuat dari kayu atau bambu. Gawangan hendaknya dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dipindahkan, tetapi harus kuat dan ringan.
            Sarung tangan gunanya untuk melindungi tangan agar tidak ikut terwarnai dalam proses pewarnaan.
            Dandang besar berguna untuk proses pelarutan lilin yang melekat pada kain dengan meredam dan mendidihkan air serta diberi soda abu.
            Setrika berguna untuk menghilangkan lilin pada kain. Dengan panas dari setrika, lilin akan berpindah ke kertas koran.

Teknik Membatik
            Teknik membatik pada umumnya adalah tutup-celup. Kain ditutup dengan lilin, kemudian dicelup pada zat pewarna. Untuk variasi teknik dapat juga menggunakan cara ikat-celup, yaitu  kain diikat dengan tali, kemudian dicelup dengan zat pewarna.

Langkah-langkah Membatik

Desain
            Desain adalah menggambar pola hias pada kertas gambar. Setelah itu, gambar pola hias dipindahkan ke kain menggunakan pensil gambar.

Persiapan
            Hal-hal yang perlu disiapkan dalam membatik adalah bahan atau kain yang sudah digambari, lilin, pewarna, serta alat berupa canting, kuas, wajan, dan kompor atau anglo. Pertama-tama kompor dinyalakan, kemudian wajan diletakkan di atas kompor, setelah itu masukkan lilin ke dalam wajan. Tunggu hingga lilin mencair atau meleleh.

Proses
-
Lilin yang sudah mencair diambil dengan canting.
- Menuangkan lilin dalam canting melalui carat di atas permukaan kain sesuai dengan daris gambar. Kalau perlu, carat ditiup agar lilin tidak menyumbatnya.
- Kain diberi isen-isen (isian berupa titik, garis, bidang, tekstur) dengan lilin.
- Kain dicelup pada wadah yang sudah ada pewarnanya, kemudian dicelupkan pada wadah yang berisi larutan garam.
- Kain ditutupi dengan lilin pada bidang gambar yang dikehendaki untuk warna pertama.
- Kain dicelup pada wadah yang sudah ada pewarnanya, kemudian dicelupkan pada wadah yang berisi larutan garam.
- Kain ditutup dengan lilin pada bidang gambar yang dikehendaki untuk warna kedua.
- Kain dicelup pada wadah yang sudah ada pewarnanya, kemudian dicelupkan pada wadah yang berisi larutan garam.
- Kain ditutup dengan lilin pada bidang gambar yang dikehendaki untuk warna ketiga.
- Kain dicelup pada wadah yang sudah ada pewarnanya, kemudian dicelupkan pada wadah yang berisi larutan garam. Mewarnai batik dimulai dari warna yang paling muda menuju warna yang paling tua (kuning, jingga, hijau, biru, merah, coklat, merah hati, hitam). Jika menghendaki satu warna saja, cukup dicelup sekali saja.
- Kain dimasukkan ke dalam dandang yang berisi air mendidih dan soda abu untuk melarutkan lilin.
- Menghilangkan lilin yang melekat pada kain dengan setrika yang beralaskan kertas Koran.

Pekerjaan Akhir
            Pekerjaan akhir membatik terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut :
- Mengeringkan kain batik yang masih basah di tempat yang teduh. Gunanya agar batik menjadi lebih ‘keluar’.
- Membingkai batik lukis pada kayu spartam. Ini dilakukan bila kain batik hendak dijadikan hiasan dinding.
- Melipat dan menyimpan kain batik tulis pada tempatnya. Akan lebih baik lagi bila kain batik itu disimpan dengan cara menyampirkannya ke sebilah kayu sehingga tidak cepat rusak akibat terlipat-lipat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar